Pak SBY, kami warga di pesisir Sumbar, mati saja yang belum. Kalaulah Bapak berkantor di Padang, takkan terpicingkan mata oleh bapak, meski malam telah larut. Pak Gubernur kami, sekarang sudah kurus. Kemarin bersama Waka Polda, Wagub, Walikota Padang, mengimbau rakyat untuk tidak resah. Pejabat kami kurang tidur sekarang, Pak. Bagaimana bisa tidur, di mana-mana rakyat ketakutan akan isu gempa besar. Sudahkah Bapak tahu akan hal itu? Pak SBY yang terhormat... Maksud hati hendak membangun jalan evakuasi, membangun shelter, mendinding laut, tapi kami tak punya uang. Pemerintah pusat tak peduli. Kami tahu tak peduli, karena kata Bappenas, tak ada dana pusat untuk membuat shelter di Sumbar. Akan Bapak biarkan saja kami mati disapu tsunami, jika monster itu datang? Sekarang Pak, tiap sebentar isu meruyak, lewat SMS, dari mulut ke mulut, resume rapat interen pejabat pemerintah disebar PNS tak bertanggungjawab. Kalau SMS terorisme, secepat kilat Densus 88 bergerak. Dijemput malamnya orang. Tapi tiba di SMS teror gempa, kenapa tak bisa, Pak? Kami seperti terhukum mati menunggu eksekusi. Ulama kami sudah bertunas mulutnya memberi nasihat, tapi kami takut juga. Jiwa yang resah adalah penyakit, sedang hati yang riang adalah obat. Yang terjadi hati kami diperparah oleh pakar. Tim Sembilan yang Bapak bentuk datang ke Padang, hanya untuk bilang: “Itu gempa di Mentawai baru buntutnya, yang akan kita tunggu bapaknya, ini bukan mempertakut, tapi harus disampaikan,” katanya. Tim ini, melibas urusan BMKG. Padahal negara memercayakan kepada BMKG, namun Tim Sembilan lebih jago dan merasa berkompeten. Maka takutlah seisi kota, takutlah seisi kampung, dari ujung ke ujung. Setelah itu tim hebat tersebut pergi ke Jakarta, ke pangkuan istri dan anak-anaknya. Ketika gempa datang, yang sibuk justru BMKG. Pak SBY yang tercinta... Waktu pemilu 80 persen suara rakyat Sumbar untuk Bapak, maka sewajarlah kini, ketika kami memerlukan bantuan, Bapak bantu kami. Suratkabar Singgalang menawarkan, agar laut Sumbar didinding. Biayanya takkan sampai Rp20 triliun. Sekali angguk saja oleh Bapak, beres semua. Ini lebih penting dibanding Jembatan Selat Sunda. Dinding laut itu ada di Jepang, di Korea dan di sejumlah negara lainnya. Bentuknya seperti Tembok Cina. Bisa untuk jalan di atasnya. Kira-kira tingginya 10 sampai 15 meter. Panjangnya, orang PU yang bisa mengukurnya Pak. Sekalian bisa untuk lokasi rekreasi, bahkan jalan tol bisa dibuat di atasnya Pak. Bukankah Bapak akan membuat jalur lintas barat Sumatra? Dinding laut itu saja jadikan jalan. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. Bisa Bapak bayangkan musibah tsunami Aceh, untuk rehab rekon (RR)nya saja habis uang minimal Rp75 triliun. Kerugian yang terjadi, empat kali lipatnya, barangkali. Akibat amuk alam ini, tidak kurang dari 132 ribu orang Aceh meninggal dan 37 ribu orang dinyatakan hilang. Apalah artinya yang Rp20 triliun untuk mendinding laut Pak. Atau habis dulu orang Minang oleh tsunami, baru kemudian dibentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Sumbar. Okelah, tak ada uang untuk dinding laut, untuk shelter juga boleh. Padang memerlukan setidaknya 100 shelter. Sebanyak itu pula di wilayah lain di Sumbar. Tiap shelter Rp30 miliar. Kata Bappenas, tak ada dana untuk itu. Disuruhnya pemerintah daerah “kreatif”. Itu sama dengan membunuh namanya. Bagaimana perencanaan pembangunan, bisa melupakan mitigasi? Lupa akan nasib rakyat, kecewa berat kami dengan Bappenas. Hentikanlah agak sejenak membangun jalan tol di Pulau Jawa itu, alihkan uangnya untuk Sumbar. Apakah untuk membangun shelter, escape building, dan jalan evakuasi atau dinding laut. Pak SBY, jalan evakuasi saja di Padang sudah tujuh tahun tak selesai. Uang untuk membebaskan tanah tak kunjung cukup. Kasihlah kami uang untuk pembebasan jalan itu saja dulu, sudah besar hati kami, Pak. Ini kan tidak, selalu saja jawabannya klise, “pusat tak ada uang untuk pembebasan tanah”. Kalau untuk proyek biasa, bisa diterima, tapi untuk proyek kemanusiaan, apa tidak bisa pusat turun tangan? Kadang kami di Sumbar merasa jauh dan sepi sendiri. Kenapa pemerintah pusat tak peduli lagi pada kami. Sedih hati kami di sini. Mohon temani kami dalam masa-masa sulit ini Pak. Kami sedang gamang. Hanya kepada Tuhan kami bisa mengadu, berdoa, berserah diri. Kalau Bapak mau membantu, kami tawarkan tujuh hal untuk meminimalkan dampak tsunami di Sumbar. Ketujuhnya dinding laut, relokasi penuh warga pesisir Sumbar, relokasi zone merah saja, buat shelter, buat ecape building, jalur evakuasi, tanam trembesi dan bakau di pantai atau reklamasi. Sampai hari ini, hanya satu yang sudah ada yaitu satu unit shelter yaitu SMA 1 Padang. Itupun bantuan Yayasan Budhi Suci, bukan uang pemerintah. Pemerintah daerah takkan bisa berbuat apa-apa, kalau pusat tak membantu. Penyakitnya Pak, kementerian dan Bappenas, kalau tak dilobi, tak dihiraukannya nasib rakyat. Apa perlu lagi lobi-lobi semacam itu, sementara kami sedang gundah gulana? Jika Bapak memerlukan sepucuk surat yang ditandatangani seluruh rakyat, kami siap membuatnya. Kami tak takut mati Pak, sebab ajal sudah tersurat di Arasy. Mati hari ini, pasti mati. Tapi, bukankah kita perlu berikhtiar? Apalagi rakyat Sumbar adalah bagian integral dari Indonesia. Pak SBY yang terhormat... Jujur saja, bangsa yang besar ini, berhutang sejarah pada kami orang Minang. Kami tak minta dibayar, tapi berbuat baiklah pada saat yang tepat. Saatnya sekarang. Kalau pada 2011 hanya rapat ke rapat saja, janji ke janji saja, maka kami akan menjadi rakyat yang patah arang. Pak SBY... Maafkan saya yang sudah lancang menulis seperti ini. Apa boleh buat ditangkap intel pun sudah risiko saya. Tak ada pilihan lain, Bapak harus turun tangan. Ah, jika saja Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Yamin, Agus Salim, masih hidup, mungkin nasib kami takkan semalang sekarang. Hari ini pasti dipanggilnya Bapak ke rumahnya. “Tolong kampuang kami ya, Pak Presiden,” kata Hatta, suara beliau antara terdengar dan tidak. “Tolong itu Sumbar, lumbungnya demokrasi,” kata Sjahrir. “Demi rakyat jelata yang menderita setiap hari, bantu Ranah Minang,” kata Datuk Tan Malaka. “Minangkabau adalah libero dalam pembentukan Negara Kesatuan RI, bantu sekarang, rakyatnya sedang nestapa,” kata Pak Yamin. “Belum bersekolah orang di tempat lain, orang Minang sudah studi ke Belanda, buat sekolah jadikan shelter,” kata Agus Salim. Tapi tidak. Beliau telah tiada. Kami sepi sendiri Pak Presiden SBY. Wassalam. (*)
Singgalang, 27 Nov 2010
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Cerpen dan Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Cerpen dan Dongeng. Tampilkan semua postingan
Senin, 28 Maret 2011
“Kapal Batu”
Semua ini terjadi saat adanya kejadian pada beberapa orang pemuda, yaitu yanto, andri, santo, lkhsan dan seorang pembantu mereka yang berlayar saat itu dengan mereka. Keempat pemuda ini merupakan pencinta barang-barang antik yang bersal dari laut.
Suatu hari keempat pemuda ini berlayar ke daerah mentawai lebih tepatnya dikecamatan sipora untuk mencari barang anti dari laut seperti bunga, kerang, ikan hias,kulit penyu dan barang antik lainnya. Setelah perjalanan panjang yang mereka lewati selama semalaman mereka pun sampai didaerah mentawai kecamatan sipora desa sao. Pencarian barang antik laut tidak langsung mereka lakukan. Sebelumnya mereka meminta izin kepada masyarakat sao, izin pun mereka dapatkan dari masyarakat setempat, tetapi dengan satu syarat yang diberikan oleh masyarakat tersebut yaitu jangan pernah melakukan hal-hal yang menyiksa makhluk hidup dilaut tersebut. Apalagi hewan laut yang masyarakat sebut dengan sebutan kaira atau penyu laut, itu bisa menyebabkan munculnya musibah besar bagi mereka yang melakukannya.
Setelah berbincang-bincang dengan masyarakat setempat, mereka pun kembali kekapal yang siap untuk berlayar mencari barang antik tersebut, namun tidak dengan pembantu mereka tadi. Pembantu nya itu sedang pergi kehutan untuk mencari kayu bakar. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan mereka dengan asyiknya bermain dan canda tawa, tanpa mereka sadari matahari turun dan tenggelam menunjukkan hari sudah semakin sore, dan ditengah keasyikan tersebut salah seorang melihat seekor penyu yang muncul dipermukaan air laut dekat kapal mereka. Yanto pun bergegas mengambil jaring yang telah disiapkan sebelum berangkat dan dibantu oleh lkhsan untuk menangkap penyu tersebut. Akhirnya perjalanan mereka tidak sia-sia dan tangkapan mereka membuahkan hasil. Andri dan santo mendekati temannya yang telah berhasil menangkap penyu itu dan berkata,”tidak kah kalian ingat apa yang disampaikan oleh masyarakat itu?” dan ikhsan mejawab,”itu tidak penting, lagian kan mereka tidak tau” kemudian santo berkata lagi,”tapi ikhsan, bukankah masyarakat itu telah berpesan pada kita bahwasanya kita tidak boleh menangkap penyu itu, apalgi menganiaya nya bisa-bisa kita dapat musibah.”
Ikhsan berlagak seperti orang bodoh lalu menyuruh yanto untuk mengambil sebilah parang dan ia pun melepaskan kulit(tempurung) penyu tersebut kemudian ia melepaskannya kelaut. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak melihat penyu berenang dengan penderitaan yang ia telah lakukan. Tapi sayang tawa itu berakhir dengan datangnya petir yang menyambar kapal mereka dan kapal itu berubah menjadi batu sementara mereka yang berempat hangus menjadi abu, hanya pembantu yang mereka tinggalkan dihutan saja yang selamat dari musibah itu.
Akhirnya kapal yang menjadi batu itu diberi nama oleh masyarakat setempat kapak bungkuk”kapal batu” desa sao.
Label:
Tulisan Cerpen dan Dongeng
“Tak Ada Yang Bertahan” (Kisah Nyata Seorang Mahasiswa)
Hidupku terasa sepi dan hampa apabila tak ada seseorang yang hadir dalam kehidupan ini. Ingin rasanya mencari pacar lagi. Sebulan yang lalu aku dekat dengan beberapa orang cewek di kelas ku. Dan ternyata hanya satu yang membuatku merasa nyaman apabila didekatnya. Sebut saja “lolita” sorry bro, namanya ku ganti dengan nama samaran. Akupun terus mendekati dia hingga dia benar-benar mersa dekat dengan ku. Setelah itu, aku merasa setelah kedekatan kita akan lebih baik apabila kita menjalin sebuah hubungan khusus. Beberapa hari setelah kedekatan itu kami pun resmi jadian.
Hari ini adalah hari jadian ku dengan lolita, tepatnya rabu 13 oktober 2010. Aku sangat senang dan bahagia apabila didekatnya, dan aku berharap kebahagiaan ini akan ku miliki selamanya. Dunia seakan milik ku saat ini. Pada keesokan harinya kebetulan aku dan dia tidak kuliah dan aktivitas kampus pun juga tidak ada, lalu aku berangkat kekampung halaman karena libur tersebut. “wah senang nya hati ini, cewek ada kuliah juga libur..mmm lega rasanya, tapi tugas kuliah lagi banyak juga sih,,gimana nih,,gak jadi deh aku nyatai,,hufffffff”. Pada saat malam datang aku teringat pada kekasih yang tadi siangnya baru jadian aku tinggal pergi, “lagi ngapain dia yach..telphon dulu ah, itung-itung ngelapesin kangen”. Tidak lama kemudian aku pun mengambil handphon yang terletak ditempat tidur ku, “kring..kring” akupun melepas kerinduan yang hanya Cuma lewat telphon seluler aja.
Setelah lama berbicara ditelphon aku merasa ngantuk dan sengat lelah, karena tadi siang menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi karena tugas yang diberikan dosen belum juga selesai maka mulai lah aku menyelesaikannya. Tidak terasa waktu terus berlalu dan hari semakin sore, akhirnya tugas ku terselesaikan juga. Aku bersiap-siap untuk kembali ke lubuk alung dimana gadis pujaan hati telah menunggu kedatangan ku. Satu minggu kemudian aku merasa ada yang berubah pada sifatnya lolita dan perang dunia kedua pun dimulai “ada apa dengan mu,aku perhatiin dalam beberapa hari ini kamu sering mengahindar dari ku,,ada apa dan kenapa???,,”, dia tidak mau menjawab pertanyaan ku. Aku bingung dengan perilakunya begitu, aku coba untuk membujuknya sekali lagi, tetapi ia tidak mau menjawab. Ya tuhan kenapa dia?,,apa yang harus aku lakukan dan kenapa ia bisa berubah secapat itu? apa salah ku padanya?. Didalam kebingungan ini aku tak bisa berbuat apa-apa dan apa yang harus aku lakukan agar hubungan ku dengan dia bisa kembali seperti sedia kala. Rindu ku semakin tak tertahan, sedangkan dia selalu cuek dan tak acuh padaku. Sepertinya dia memang tak ada lagi perasaan untuk mencintai ku, tapi aku masih penasaran apa yang terjadi sebenarnya pada hubungan ku ini. Sedih bercampur emosi membuatku merasa terombang-ambing pada kesalahan yang tak pernah aku lakukan, aku mencoba untuk membicarakan masalah ini dengan dia, tapi dia selalu menolak setiap ajakan ku ini. Rasanya aku ingin berteriak sekuat mungkin agar dia mengerti keadaanku sekarang ini, tapi itu tak mungkin. Semua teman-temanku juga tak jauh dari tempat aku berdiri, dan teman-teman pun tak tau kalau hubungan ku dengan dia sudah retak. Pedih, perih itu yang kurasakan saat dia mengirim sebuah pesan singkat kepadaku isinya mengatakan,,”maaf aku tak bisa melanjutkan hubungan ini”.
Setelah kejadian itu aku merasakan keputusasaan terhadap diriku sendiri, orang yang sengat aku cintai kini telah pergi meninggalkan aku disaat aku terpuruk sendiri. Berhari-hari pikiran ku tak karuan kerena memikirkan gadis yang aku cintai kini hilang dan pergi, beragam tugas yang diberikan dosen pun juga terbengkalai. Aku kecewa pada diriku sendiri.
Dulu aku juga merasakan hal yang sama seperti ini, pada saat itu aku masih SMA dan aku duduk bangku kelas II dan pacar ku kelas I pada sekolah yang sama. Hubungan ku pada saat itu cukup lama bertahan, tak lama kemudian juga dapat masalah. Awal-awalnya muncul masalah yaitu pada saat aku datang kerumahnya dengan teman-teman untuk mengenali orang tua nya lebih dekat lagi, hari itu aku benar-benar lupa kalau aku sendang merokok didepan orang tuanya dan dia paling tidak suka melihat orang yang disayangnya merokok didepannya. Jangan kan aku yang merokok, orang tua laki-lakinya saja merokok dia sangat marah apalagi aku yang dia kenal hanya lebih kurang setahunan lah kira-kira begitu. Setiap hisapan aku nikmati,”wah nikmat sekali rasanya, apalagi sesudah makan rasanya maknyus banget”. Tanpa kusadari ternyata dia sedari tadi berdiri dibelakangku”ah celaka,,mati aku, aku ketauan bussssyeeet dah”,dengan rasa kaget yang begitu mengguncang dunia sehingga aku tak dapat berbicara apapun dan hanya mendengar suara yang marah-marah bagaikan macan menerkam mangsanya. Keesokan harinya dia mencari ku disekolahan dan masih juga marah apabila melihat wajah ku yang imut dan lucu”kata orang-orang sich” dan dia langsung mengambil keputusan yang tak pernah aku bayangkan akan terjadi. Akhirnya berakhir sudah hubungan ku dengan dia. Setelah peristiwa itu aku teperangah duduk didekat bangku disamping kelas, dan aku menyadari betapa bodohnya aku dalam menjalin hubungan berpacaran. Sebenarnya masalah ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin, tapi itulah dia orang yang suka memaksakan kehendak sendiri tampa memikirkan orang lain.
Hari demi hari terus berlalu dan tahun pun telah berganti, kini aku lulus dari ujian nasional walaupun lulusnya sama dengan adik kelas yaitu tahun 2006. Dengan hati riang gembira aku membawa ijazah untuk melamar jadi kepolisian, tapi entah garis tangan sudah diatur oleh yang kuasa aku gagal pada tes ketiga. Pikiran ku sangat kacau akan jadi apa aku ini, semua orang yang melintas didepanku terlihat kecil dan ingin rasanya melepas kekecewaan ku pada mereka. Pada akhirnya aku memutuskan untuk merubah nasib dirantau orang, namun dua tahun kemudian aku pulang untuk melanjut kan sekolah keperguruan tinggi lubuk alung. Setelah beberapa selang waktu berlalu aku menjalani sebagai mahasiswa dikampus ini, Aktivitas kuliah aku lalui dengan santai ketika pertama masuk di perguruan tinggi ini.
Tidak lama kemudian disaat-saat aku lagi sibuk kuliah, tak disangka ada juga yang mengisi hari-hari ku diwaktu luang, semenjak aku sering main ke salah satu stasiun radio di lubuk alung ini lah pertama kali aku bertemu dengan nya.,,,,,oh iya aku lupa nama gadis itu detrivia anita (idet). Idet ini orangnya sangat sederhana dan aku mengagumi kesederhanaannya itu. Berhubung aku dan dia semakin dekat maka aku ingin memiliki dan mencintai sepenuh hati, tapi ia menolak permintaan ku, ia bilang aku terlalu berlebihan menanggapi kedekatan kita katanya. Seiring berjalannya waktu akhirnya dia mau juga menjalin hubungan yang spesial dengan ku, aku dan dia sering bertemu ketika diradio, kadang kala aku janjian di prapatan rumah nya. Sebenarnya dia sudah lama ingin mengungkapkan perasaannya dengan ku, tapi maklumlah setiap wanita selalu menunggu dari laki-laki dulu yang mengungkapkan perasaan.
Beberapa bulan hungan kami pun telah berlalu, hingga masalah selalu berpihak padaku ,,ada aja masalah yang datang padaku. Hari ini adalah hari ulang tahun ku dan sebelumnya ia pernah berjanji padaku bahwasanya ia akan datang pada hari ulang tahunku ini, tapi ntah kenapa ia tidak datang. Aku sangat berharap kedatangnya, itu yang aku tunggu dan aku ingin merasakan kebahagiaan ini bersamanya. Lama sudah aku menunggu dengan rasa kecewa, aku mencoba untuk menenghubunginya, tapi handphonenya selalu sibuk, hingga aku terduduk dibawah batang rambutan yang pada waktu itu aku meratap dalam kesedihan. Dan disaat itu juga handphone ku berdering ternyata sebuah pesan singkat yang dikirimnya bahwa ia tak bisa datang karena keperluan lain dan itu hanyalah sebagai alasan agar aku percaya dengannya. Ya allah kenapa aku selalu diberikan kekecewaan dan kenapa tidak kebahagiaan yang ku dapat.
Kini ia datang dan sebentar pergi, ada apa dengan dia dan kenapa ia seperti itu padaku. Setelah aku tau pada hari itu ia lagi asyik berduaan dengan laki-laki lain dan ternyata aku tertipu oleh mulut manisnya yang katanya akan setia selamanya. Dan aku mengajak nya untuk bicara tapi apa jawabnya, jangan difikirkan lagi hubungan kita karena dia sudah ada pengganti lain. Kecewa dan kecewa lagi itu yang selalu kurasakan. Sehingga aku berniat kembali untuk mencari yang tepat dan tak kan terulang lagi seperti masa laluku.
Aku sangat berharap pada gadis yang bernama lolita agar ia mau balikan lagi dengan aku, tapi berat rasanya hati ini untuk mengungkapkannya. Dan aku tak ingin kekecewaan itu terulang lagi. Dari sisi aku lihat dia orang nya baik, dari sisi lain dia telah melakukan kesalahan besar terhadapku. Aku juga berharap andaikan lolita kembali kepadaku mungkin aku akan berusaha semampu ku untuk membuat ia nyaman didekatku. Semua itu tak bisa aku lakukan sendiri dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk membiasakan diri agar terlupa dari masa laluku dengan dia.
Seandainya memang ada harapan untuk kembali kepada Lolita, mungkin aku akan memperbaiki semua kesalahan yang seharusnya tak mungkin terjadi. Sungguh tersiksanya batinku saat ini karena aku sangat merindukan kehadirannya disisiku dan aku sangat membutuhkanya sekarang ini. “dimana kamu sekarang lolita yang ku kenal dulunya baik padaku”. Gelisah yang kurasakan karna memikirkan gadis tak mungSkin berharab kepadaku, ini memberikan aku ide untuk membuat sebuah puisi cinta yang kan kukirim ke publik, mungkin dengan cara inilah rinduku selama ini akan terobati, “ mudah-mudahan amin..”.
Cinta sesaat berakhirnya juga cepat, cinta sepenuh hati berakhirnya juga sampai mati. Cinta yang ada padaku ini hanyalah sesaat, sampai kapankah ini kan barakhir agar aku akan menemukan cinta sejati yang aku idam-idamkan selama ini.hidup serba susah untuk saat sekarang, sendiri susah dan selalu merindukan pasangan, apabila sudah ada pasangan juga susah untuk menjaganya. Aku tak habis pikir dengan kehidupan cinta, ntah apa yang ku nanti sehingga sampai saat ini aku masih menunggu kehadirannya kembali disini. Kini dalam sebuah percintaan aku menyadari, yang dibutuhkan adalah kesabaran dan rasa saling percaya. Kalau kita tidak sabar maka berakhirlah dengan perpisahan, begitu juga dengan kepercayaan. Kepercayaan yang kita miliki akan membuat hubungan kita akan terasa aman tanpa ada rasa saling menyalahkan.
Jika aku dan Lolita ditakdirkan untuk berpisah mungkin itu hanya cobaan untuk bisa saling mengkoreksi diri dan walaupun berat rasanya biarlah semua itu aku simpan didalam relung hati paling dalam yang terkunci rapat agar semua kenangan berlalu dengan berjalanya waktu dan bersiap-siap untuk menjalani kehidupan yang baru.
Label:
Tulisan Cerpen dan Dongeng
Sabtu, 19 Maret 2011
Hidup Bagai Misteri "Cerpen: Solinda (Kisah Nyata Seorang Siswa)"
Kehidupan memang terkadang tak sesuai dengan yang kita harapkan. Siklus kehidupan terus berlanjut seperti roda. Kadang di atas dan terkadang di bawah. Ada suka maupun duka.
Hmmm…. Hidup, kau terkadang bagai misteri bagiku. Tak kan bisa ditebak, bagai teka-teki. Seperti yang ku alami di dalam melewati perjalanan hidupku ini. Sampai aku menduduki bangku SMA, siapa yang menyangka dan menduga, bahwa aku dibesarkan dan disekolahkan oleh penghasilan nenek.
Nenek bagiku adalah seorang pahlawan, yang telah membantuku untuk dapat mengenal arti sebuah kehidupan dan pengorbanan. Kasih sayangnya yang begitu tulus, membuat aku tegar melewati getirnya kehidupan ini. Semenjak kecil, berawal dari perceraian orang tuaku, aku merasa dunia ini begitu kelam, hampa, tanpa kehadiran kasih saying dan pengorbanannya. Yang membuatku tegar, kuat dan penuh semangat dalam menjalani kehidupan. Aku tak pernah merasa kekurangan, nenek selalu melengkapi kebutuhanku sehari- hari.
Disuatu malam, di ruang keluarga, ku jumpai nenek duduk termenung tak seperti biasanya. Wajahnya begitu sendu, menggambarkan kesedihan yang begitu dalam. Aku tak tahu apa yang tengah dipikirkannya. Tapi, melihat sorot pandang wajahnya, ku yakin nenek tengah merasakan kesedihan dan masalah yang begitu berat. Aku menghampiri nenek, dan duduk disebelahnya. Kemudian aku bertanya apa yang tengah dipikirkan nya. Nenek Cuma senyum dan mengatakan tidak ada yang dipikirkannya. Nenek juga bilang, mungkin nenek kecapean aja, sehingga aku mengartikan bahwa nenek lagi bersedih. Tapi, hatiku merasa nenek tengah berbohong dan menyembunyikan sesuatu terhdapku. Dan aku tak tahu itu…!!!
Akupun bilang sama nenek “ya udahlah nek, kalau nenek capek, mendingan nenek istirahat… nanti nenek sakit…” nenek mengangguk dan masuk ke kamar. Ketika nenek mau menutup pintu kamar, tanpa sengaja aku mendengar nenek berkata “Andai orang tuamu masih bersama, mungkin hidupmu takkan seperti ini…”.
Aku ingin sekali menanyakan apa arti dan maksud dari perkataan nenek, tapi aku takut. Aku takut ini akan menambah beban pikiran dan membuat nenek justru merasa sedih. Aku pun masuk ke kamarku merebahkan badan di kasur, memandangi langit-langit kamar, menerawang jauh memikirkan hidup ini yang terasa bagai pizzle yang yang sulit di ungkapkan.
Ibu…… Ayah…… aku kangen…… aku rindu akan kasih sayangmu. Aku ingin kalian seperti dulu… tapi, itu tak mungkin.
Nenek…… aku juga tak ingin membuat nenek merasa terbebani denga terus-menerus memenuhi kebutuhanku sehari-hari.
Ya Allah…… Ya Tuhanku…… apa yang harus ku perbuat…?
Ku merasa serba salah.
Aku menangis mengenang semuanya…
Ah! Yang berlalu, biarlah berlalu. Yang jelas, aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang.
Malam terus berlanjut, bintang-bintang terus berkelap kelip di angkasa luas. Suara jangkrik, terus bermusik, berpesta pora. Hinnga ku pejamkan mata ini….
Yang ku tak tahu, apa yang terjadi esok hari.
Label:
Tulisan Cerpen dan Dongeng
Langganan:
Postingan (Atom)